Saturday, October 16, 2010
Mau Share Aja Neh Kehidupan Anak ABG Metropolitan
Thursday, July 15, 2010
Budaya Konsumerisme Indonesia
Dewasa ini masyarakat Indonesia sangat terlihat begitu kentalnya sebagai masyarakat konsumen yang sempurna. Bukan saja masyarakat menengah ke atas saja, akan tetapi telah sampai pada masyarakat yang paling bawah dalam tingkatan sosial dan ekonominya. Hal ini sangat kentara bisa kita lihat dari beberapa episod yang ditanyakan sebuah televisi swasta dengan tema acara “Uang Kaget” atau Mr.EM (Mr.Easy Money). Dalam acara itu seorang “Mr.EM” menemui seseorang yang dinyatakan sebagai orang yang kesulitan ekonomi-keuangan atau dengan kata lain orang yang tidak mampu secara ekonomi-keuangan. Setelah melakukan wawancara seperlunya lalu Mr EM memberikan uang yang bagi mereka (orang yang ditemui) merupakan jumlah uang yang “sangat banyak”. Jumlah uang diberikan kepada mereka memang jumlah besar yaitu Rp. 10.000.000,00.(sepuluh juta rupiah). Mr.EM memberikan tugas kepada mereka yang menerima uang tersebut untuk membelanjakan secara langsung dengan batas waktu untuk “menghabiskan” jumlah uang tersebut selama 30 menit. Kemudian acara selanjutnya mereka yang menerima uang Rp. 10.000.000,00 “dadakan” tersebut lalu lari-lari ke toko atau super market atau ke mall dan sebagainya untuk membelanjakan dan menghabiskan jumlah uang tersebut. Bisa kita lihat yang mereka beli adalah barang-barang yang menurut pandangan mereka adalah barang-barang yang “mewah” misalnya kulkas, televisi, radio, tape-corder, kompor gas, bahan, alat-alat masak dan makanan-makanan (supermi dan sejenisnya, snack dan sebagainya). Pembelian–pembelian tersebut begitu meriahnya, tanpa disadari pentingnya setelah mereka membeli. Saat melakukan pembelian barang-barang tersebut memang tidak akan menjadi beban yang bersangkutan manakala yang dibeli adalah bahan-bahan makanan/ minuman atau alat-alat masak yang tidak elektromik. Akan tetapi ternyata mereka sekarang membeli peralatan dan barang-barang yang tidak primer dan yang elektronik (Kulkas, TV misalnya), tidak terpikirkan bahwa setelah membeli dan memiliki akan mengandung biaya. Biaya yang ditanggung secara harian atau bulanan adalah biaya listrik, sementara barang-barang tersebut kurang produktif untuk bisa menghasilkan uang secara harian atau bulanan. Pembelian tersebut sekedar menghabiskan uang “dadakan” yang tidak diperhitungkan beban selanjutnya setelah memiliki barang-barang tersebut. Inilah yang dikatakan sebagai bukti bahwa masyarakat kita sangat konsumerisme. Tanpa disadari dengan mendapatkan hadiah mendadak mereka memiliki barang-barang yang kurang produktif dan justru akan menjadi beban harian atau bulanan, yang berarti tidak menolong kehidupan sehari-hari, akan tetapi kebalikannya yaitu memberi beban biaya harian atau bulanan mereka. Kita harus sadar bagaimana kita harus memilih manakala kita memperoleh dana atau uang yang berlebih. Kepada kita semua hendaknya secara sadar harus melakukan perubahan paradigma. Bagaimana kita membiasakan diri untuk berpikir “berinvestasi”. Berinvestasi secara sederhana adalah dengan menabung, membeli barang-barang yang tahan lama yang dikemudian dapat dijual dengan harga yang stabil (misalnya emas), atau kita membeli surat-surat berharga (misal saham) dan sebagainya. Mengambil contoh sederhana, yaitu manakala mereka yang memperoleh “Uang Kaget” dari MR.EM tersebut memiliki kebiasaan berfikir “investasi” dan bukan pandangan konsumerisme akan sangat baik jika uang tersebut dibelikan barang berharga misalnya emas. Dengan memiliki emas, tidak mengandung beban biaya yang harus dikeluarkan setelah pembelian. Dengan memiliki emas, manakala suatu saat setelah pembelian diperlukan uang tunai maka dapat dijual kembali dengan perubahan harga yang relatif stabil. Coba kita bandingkan dengan jika mereka membeli TV, yang memunculkan biaya baru setelah pembelian dan manakala dijual harganya turun yang drastis. Untuk pemerintah terutama instansi atau pejabat yang berkaitan dengan pemberdayaan rakyat hendaknya program “suka investasi” ini dapat dikembangkan. Minimal pembudayaan menabung, harus di”galak”kan kepada masyarakat sampai masyarakat tingkat yang paling bawah. Dengan menabung atau berinvestasi akan mampu “menggairahkan” dan meningkatkan ekonomi bangsa dan negara ini. Negara ini memerlukan kerja keras semua pihak, untuk menumbuhkan ekonomi. Untuk menumbuhkan ekonomi bangsa, diperlukan investasi-investasi, investasi diperlukan dana. Kebiasaan berinvestasi (minimal menabung di Bank) merupakan budaya yang perlu dikembangkan, disosialisasikan dan menjadi budaya masyakarat. Bukan lagi budaya konsumerisme. Para pendidik, tokoh masyarakat, para da’i, dan kita semua memiliki tugas dan tanggungjawab yang sama untuk pembudayaan berinvestasi dan menghindari budaya konsumerisme pada lingkungannya. Hemm gimana setelah baca artikel tersebut? ? ? dan saya mau nambahin nech kalau bisa ditambahin satu lagi, satu unsur konsumerisme di negara kita adalah GENGSI 'prestige'. Coba bayangin ajah mayoritas masyarakat Indonesia lebih mementingkan merk daripada kenyamanan (saya juga sih, gag munafik loh!). Kalau punya barang-barang bermerk rasanya pasti gimana getu bangganya dipamerin kemana-mana. Ada yang bilang sah-sah saja itu uang-uang saya yg dipakai untuk beli, hahaha susah juga sih!! Semakin mewabahnya budaya konsumtif, semakin besar pula kesenjangan sosial di masyarakat. Nah guys oleh karena itu kita harus pandai-pandai neh bersikap terhadap konsumtif itu. Life is too short to be some body else!! So just be YOU!! |
Beyonce Knowles - Irreemplazable (Irreplaceable Spanish Version)
Te olvidé, te olvidé
(mmm)
Ya lo ves, ya loves
Ya lo ves, amor, esta vez te olvidé
en el closet, en un rincón
están tus cosas, esto se acabó (se acabó)
Te juro que no te aguanto más
no te quiero ya, ni como amante
Esta vez no ganarás, te puedes marchar
y no vuelvas jamás
Y si acaso piensas que esta vez voy a perdonar
ya verás, que nunca más me vuelves a engañar
Ya lárgate
¿Qué sabes tu de mi? No me hagas reir
tu creías que eras imprescindible
pero sin tu amor no voy a morirme, baby
¿Qué sabes tu de mi? No me hagas reir
me verás con otro hombre a mi lado
Ya lo ves, traidor, voy a sustituirte...
a olvidar tu amor
Ya me curé de dolor, ya te saqué de mi corazón
vete con ella, solos los dos
pobre de ti, lárgate, me das asco
Tu eres mi luz
pero hay amores que matan de daño
Me cansé de ti
ya no soy aquella infeliz
Y si acaso piensas que esta vez voy a perdonar
ya verás, que nunca más me vuelves a engañar
Ya lárgate
¿Qué sabes tu de mi? No me hagas reir
tu creías que eras imprescindible
pero sin tu amor no voy a morirme, baby
¿Qué sabes tu de mi? No me hagas reir
me verás con otro hombre a mi lado
Ya lo ves, traidor, voy a sustituirte
voy a olvidar tu amor
Ya no soy nada para ti
alguien que no conoces
Lo nuestro se acabó
tanto daño al fin lo destruyó (destruyó)
Nunca lloraré por ti
porque ya me cansé de ti
No eres más imprescindible
Ya lo ves, ya lo ves
te olvidé, te olvidé
(mmm)
Ya lo ves, ya lo ves
ya lo ves, amor, esta vez te olvidé
Te olvidé, te olvidé
Ya lo ves, traidor, voy a sustituirte...
voy a olvidar tu amor
¿Qué sabes tu de mi? No me hagas reir
tu creías que eras imprescindible
pero sin tu amor no voy a morirme, baby
¿Qué sabes tu de mi? No me hagas reir
me verás con otro hombre a mi lado
Ya lo ves, traidor, voy a sustituirte...
¿Qué sabes tu de mi? (baby) No me hagas reir
tu creías que eras imprescindible
pero sin tu amor no voy a morirme
(No hay más que hablar, terminamos)
¿Qué sabes tu de mi? (Este cuento al fin se he acabado) No me hagas reir
me verás con otro hombre a mi lado
Ya lo ves, traidor, voy a sustituirte...
voy a olvidar tu amor :)
Beyonce Knowles - Oye (Listen Spanish Version)
No puedo ya seguir viviendo así
Oye (uhum) como llora mi canción
Preciso tu atención debes oír
Hoy no sé quién soy ni sé adónde voy
Encontrarme hoy es mi misión
De tu prisión por fin ya soy libre
[Chorus:]
Oye...
Esto no tiene salida
Ya nada sirve que digas
Tengo que escapar
Yo tengo que escuchar a mi corazón
Oye...
Buscaré mi propia luz
No seas insensible
Soy más de lo que fui por ti
Llena de valor voy a por ti
Yo tengo que encontrar mi voz
Nunca quisiste que me fuera a volar
Callar mi identidad, que gran error
Hoy grito no tengo más temor
Hoy tu alumna te dice adiós
De tu prisión por fin ya soy libre
[Chorus]
Yo soy tu gran creación
Por eso es que me voy
Dime adiós, dime adiós
[Chorus x2]
Oye...
Lo que tengo que decir
No puedo ya seguir viviendo así
Ya me voy
Buscaré mi propia luz
No seas insensible
Soy más de lo que fui por ti
llena de valor hoy ya lo decidí
Yo tengo que encontrar mi voz
Mi voz
Beyonce Knowles - Halo
Well, baby they are tumbling down
And they didn't even put up a fight
They didn't even make a sound
I found a way to let you in
But, I never really had a doubt
Standing in the light of your halo
I got my angel now
It's like I've been awakened
Every rule I had, you break it
It's the risk that I'm taking
I ain't never gonna shut you out!
Everywhere I'm looking now
I'm surrounded by your embrace
Baby, I can see your halo
You know you're my saving grace
You're everything I need and more
It's written all over your face
Baby, I can feel your halo
Pray it won't fade away
I can feel your halo
(Halo), halo
I can see your halo
(halo), halo
I can feel your halo
(Halo), halo
I can see your halo
(halo), halo
Hit me like a ray of sun
Burning through my darkest night
You're the only one that I want
Think I'm addicted to your light
I swore I'd never fall again
But this don't even feel like falling
Gravity can't forget
To pull me back to the ground again
It's like I've been awakened
Every rule I had, you break it
It's the risk that I'm taking
I'm never gonna shut you out!
Everywhere I'm looking now
I'm surrounded by your embrace
Baby, I can see your halo
You know you're my saving grace
I can feel your halo
(Halo), halo
I can see your halo
(halo), halo
I can feel your halo
(Halo), halo
I can see your halo
(halo), halo
Halo, ooh ooh.....
Halo, ooh ooh, ooooh........
Everywhere I'm looking now
I'm surrounded by your embrace
Baby, I can see your halo
You know you're my saving grace
You're everything I need and more
It's written all over your face
Baby, I can feel your halo
I pray it won't fade away
I can feel your halo
(Halo), halo
I can see your halo
(halo), halo
I can feel your halo
(Halo), halo
I can see your halo
(halo), halo
Halo oOo
Beyonce Knowles - Ave Maria
Out in the darkness with no guide
I know the cost of a losing hand
Never thought the grace of God, oh I
I found heaven on earth
You are my last, my first
And then, I hear this voice inside.....
Ave Maria
I've been alone
When I'm surrounded by friends
How could the silence be so loud?
But I still go home knowing that I've got you
There's only us when the lights go down
You are my heaven on earth
You are my hunger, my thirst
I always hear this voice inside....
Singing Ave Maria
Sometimes love can come and pass you by
While you're busy making plans
Suddenly hit you, and then you realize
It's out of your hands.....
Baby, you've got to understand
You are my heaven on earth
You are my last, my first
And then, I hear this voice inside.....
Ave Maria
Ave Maria
Ave Maria
Tuesday, July 13, 2010
Sejarah Feminisme
+ Setelah Revolusi Amerika 1776 dan Revolusi Prancis pada 1792 berkembang pemikiran bahwa posisi perempuan kurang beruntung daripada laki-laki dalam realitas sosialnya. Ketika itu, perempuan, baik dari kalangan atas, menengah ataupun bawah, tidak memiliki hak-hak seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, berpolitik, hak atas milik dan pekerjaan. Oleh karena itulah, kedudukan perempuan tidaklah sama dengan laki-laki di hadapan hukum. Pada 1785 fperkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda.
+ Kata feminisme dicetuskan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837. Pergerakan yang berpusat di Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, "Perempuan sebagai Subyek" ( The Subjection of Women) pada tahun (1869). Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama.
+ Pada awalnya gerakan ditujukan untuk mengakhiri masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Secara umum kaum perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomor duakan oleh kaum laki-laki (maskulin) dalam bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan politik khususnya - terutama dalam masyarakat yang bersifat patriarki. Dalam masyarakat tradisional yang berorientasi Agraris, kaum laki-laki cenderung ditempatkan di depan, di luar rumah, sementara kaum perempuan di dalam rumah. Situasi ini mulai mengalami perubahan ketika datangnya era Liberalisme di Eropa dan terjadinya Revolusi Perancis di abad ke-XVIII yang merambah ke Amerika Serikat dan ke seluruh dunia.
+ Adanya fundamentalisme agama yang melakukan opresi terhadap kaum perempuan memperburuk situasi. Di lingkungan agama Kristen terjadi praktek-praktek dan kotbah-kotbah yang menunjang hal ini ditilik dari banyaknya gereja menolak adanya pendeta perempuan, dan beberapa jabatan "tua" hanya dapat dijabat oleh pria.
Pergerakan di Eropa untuk "menaikkan derajat kaum perempuan" disusul oleh Amerika Serikat saat terjadi revolusi sosial dan politik. Di tahun 1792 Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul "Mempertahankan Hak-hak Wanita" (Vindication of the Right of Woman) yang berisi prinsip-prinsip feminisme dasar yang digunakan dikemudian hari.
+ Pada tahun-tahun 1830-1840 sejalan terhadap pemberantasan praktek perbudakan, hak-hak kaum prempuan mulai diperhatikan dengan adanya perbaikan dalam jam kerja dan gaji perempuan , diberi kesempatan ikut dalam pendidikan, serta hak pilih.
Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai keterikatan (perempuan) universal (universal sisterhood).
+ Pada tahun 1960 munculnya negara-negara baru, menjadi awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya ikut ranah politik kenegaraan dengan diikutsertakannya perempuan dalam hak suara parlemen. Gelombang kedua ini dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene Cixous (seorang Yahudi kelahiran Aljazair yang kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (seorang Bulgaria yang kemudian menetap di Perancis) bersamaan dengan kelahiran dekonstruksionis, Derrida. Dalam the Laugh of the Medusa, Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin.
Banyak feminis-individualis kulit putih, meskipun tidak semua, mengarahkan obyek penelitiannya pada perempuan-perempuan dunia ketiga seperti Afrika, Asia dan Amerika Selatan.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Feminisme#Sejarah
Feminisme Zaman Sekarang Salah Kaprah ? ? ?
Tapi kemudian Feminisme, yang semula lahir sebagai gerakan yang membela kaum wanita dalam meningkatkan harga diri wanita yang ingin dinilai sesuai dengan potensinya sebagai manusia tanpa harus memandang gender, kemudian mulai disalahartikan. Ingin menaikan harga diri tapi malah menjatuhkan (harga) diri sendiri.
Sedikit cerita, di Austria kesalahpahaman mengenai arti kata “Feminisme”, membuat bocah 14 tahun mau bertukar pasangan 3 kali dalam sehari. Ketika ditanya alasannya, kemudian ia menerangkan “Boys can do it, then why we can`t…saya merasa bangga bisa menaklukan 3 orang cowok dalam sehari. Dan diantara mereka tidak perlu ada yang tahu satu dengan lainnya. Itu kan yang biasa dilakukan pria, seenaknya berganti-ganti pasangan, kemudian menyakiti para gadis”.
Di belahan negara lainnya, seorang wanita menuntut persamaan toilet, karena wanita diyakini juga dapat (maaf) kencing berdiri seperti halnya pria. Saya juga pernah mendengar adanya gerakan “Feminisme bertelanjang dada” dan “gerakan pembakaran BH”.
Feminisme kemudian disalahartikan oleh kaum wanita itu sendiri. Banyak wanita yang menjadi korban salah kaprah ini. Ironis sekali, Feminisme yang terlahir sebagai cita-cita mulia para wanita pendahulu, kemudian berubah menjadi kemerosotan harga diri seorang wanita, yang lucunya - namun juga menyedihkan – si wanita itu sendiri tidak menyadarinya. Menyadari bahwa ia telah menjatuhkan harga dirinya.
Di Indonesia sendiri? Virginitas bagi wanita Indonesia(tidak semuanya), sekarang bukanlah suatu hal yang patut dipertahankan lagi. Saya pernah bertanya pada seorang teman -wanita juga-red- , apa yang menyebabkan wanita tak perlu lagi mempertahankan ke-virgin-annya, ia menjawab “Kalau pria saja bisa mengobral ke-virgin-annya(keperjakaan), mengapa kita harus menjaganya? Saat kita mulai menjalani hubungan itu(pacaran), kita gak pernah tau apakah dia masih(perjaka) atau gak. Lagian bukan suatu hal yang aneh lagi jika di zaman sekarang ini banyak cewek yang gak virgin lagi”. Benarkah jawaban atas semua itu adalah zaman semata?
Kerancuan anggapan mengenai “Feminisme” inilah yang perlu dibenahi.Anggapan yang kemudian menggeser tradisi dan budaya yang kita banggakan dengan budaya kiriman yang baru (Western).
Hal lain! Menurut pengamatan yang saya lakukan, rupanya di Indonesia, Bandung khususnya, rokok menjadi komoditas utama yang digemari wanita-wanita zaman sekarang, selain pakaian dan cemilan. Menurut sebagian diantaranya, rokok lebih bisa menenangkan pikiran, dibandingkan shopping&ngemil –ada sebagian wanita yang lari dari permasalahan dengan cara-cara ini-red.
Dan alasan lainnya, tentu saja “cowok juga ngerokok kok… kenapa kita-kita gak boleh??” Padahal tidak perlu di jelaskan lagi, semua yang saya jabarkan di atas (termasuk rokok), tak lain akan merugikan kaum wanita itu sendiri.
Sebodoh itukah wanita-wanita sekarang? “Feminisme”(radikal) telah menutup mata hati mereka untuk melihat kerugian yang mereka alami. Sebodoh itukah? Padahal banyak diantara mereka yang mengeyam pendidikan dan pengajaran.
Bukan saatnya kita berdebat apakah karena saking bodohnya mereka atau saking pintarnya. Saatnya sekarang wanita-wanita bangkit memperjuangkan Feminisme yang sebenarnya. Bagi wanita-wanita yang sudah telanjur pada kesalahan yang tidak ‘disengaja’ tadi, bangkitlah dari keterpurukan. Bagi wanita-wanita yang mampu melihat fenomena ini, bantulah untuk bangkit. Kita harus benar-benar bersatu.
O ya! Bagaimana kalau saya ajak anda-anda berpikir sebaliknya? Kalau selama ini wanita selalu saja dituntut untuk menjaga budaya ketimuran (yang semula dirasa menguntungkan kaum pria), hingga akhirnya muncul yang namanya “Feminisme”yang kemudian disalah-artikan, dan menyebabkan serba salah. Bagaimana kalau sekarang kita yang menuntut mereka-kaum pria-red- untuk tidak hanya menuntut keperawanan, tapi mereka juga harus menjaganya (keperjakaan) juga.
Kita sudah terlalu sering mengikuti mereka, bahkan membuat mereka menjadi satu acuan kesetaraan. Bagaimana kalau sekarang, mereka mengikuti kita? Harus dimengerti memang, kalau wanita perawan sekarang sangat jarang ditemui. Oleh karena itu pria sebaiknya tak usah mempermasalahkan Virginitas wanita(biarkan kaum wanita itu sendiri yang mempermasalahkan dan mencari solusi bagi dirinya). Pria sebaiknya lebih menghargai wanita, baik ia virgin (apalagi) atau tidak virgin (apa boleh buat). Toh selama ini wanita selalu menghargai pria tanpa memandang Virgin atau tidaknya.
Dan sekali lagi, jangan hanya menuntut wanita untuk menjaga kaidah-kaidah ketimuran. Pria juga wajib menjaga dong (pahala), sebagaimana kaidah-kaidah keagamaan. Selama ini wanita dituntut untuk lebih mengerti dan mau menjaga. Pria? Rasanya tidak ada tuntut yang seperti itu dalam hal ini.
Mengenai rokok? Katakan saja ”Ngertilah....hari gini gitu loh..(zaman sekarang). Kalian-pria-red- juga jangan ngerokok dong.. jangan cuma bisa ngelarang doang”. Kenapa saya katakan zaman sekarang? Zaman yang udah berubah mau gak mau harus kita terima sementara, sebelum kita benar-benar mengubahnya.
Bagaimana? Siap untuk merubahnya wanita-wanita? Memperjuangkan hak-hak wanita yang sebenarnya? Anda yang tahu jawabannya. Anda juga yang lebih tahu caranya.
Oleh: Riski Rani Putri, Hj.
Wednesday, June 9, 2010
Wednesday, May 26, 2010
Media Tradisional (Sistem Komunikasi)
A. Pengertian Media Tradisional
Dongeng adalah salah satu media tradisional yang pernah popular di Indonesia. Pada masa silam, kesempatan untuk mendengarkan dongeng tersebut selalu ada, karena merupakan bagian dari kebudayaan lisan di Indonesia. Bagi para ibu mendongeng merupakan cara berkomunikasi dengan putra-putri mereka, terutama untuk menanamkan nilai-nilai sosial, yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Di berbagai daerah di Indonesia, media komunikasi tradisional tampil dalam berbagai bentuk dan sifat, sejalan dengan variasi kebudayaan yang ada di daerah-daerah itu. Misalnya, tudung sipulung (duduk bersama), ma’bulo sibatang (kumpul bersama dalam sebuah pondok bambu) di Sulawesi Selatan (Abdul Muis, 1984) dan selapanan (peringatan pada hari ke-35 kelahiran) di Jawa Tengah, boleh dikemukan sebagai beberapa contoh media tradisional di kedua daerah ini. Di samping itu, boleh juga ditunjukkan sebuah instrumen tradisional seperti kentongan yang masih banyak digunakan di Jawa. Instrumen ini dapat digunakan untuk mengkomunikasikan pesan-pesan yang mengandung makna yang berbeda, seperti adanya kematian, kecelakaan, kebakaran, pencurian dan sebagainya, kepada seluruh warga masyarakat desa, jika ia dibunyikan dengan irama-irama tertentu.
Media tradisional dikenal juga sebagai media rakyat. Dalam pengertian yang lebih sempit, media ini sering juga disebut sebagai kesenian rakyat. Dalam hubungan ini Coseteng dan Nemenzo (dalam Jahi, 1988) mendefinisikan media tradisional sebagai bentuk-bentuk verbal, gerakan, lisan dan visual yang dikenal atau diakrabi rakyat, diterima oleh mereka, dan diperdengarkan atau dipertunjukkan oleh dan/atau untuk mereka dengan maksud menghibur, memaklumkan, menjelaskan, mengajar, dan mendidik.
Sejalan dengan definisi ini, maka media rakyat tampil dalam bentuk nyayian rakyat, tarian rakyat, musik instrumental rakyat, drama rakyat, pidato rakyat- yaitu semua kesenian rakyat apakah berupa produk sastra, visual ataupun pertunjukkan- yang diteruskan dari generasi ke generasi (Clavel dalam Jahi, 1988).
B. Ragam Media Tradisional
Nurudin (2004) mengatakan bahwa membicarakan media tradisional tidak bisa dipisahkan dari seni tradisional, yakni suatu bentuk kesenian yang digali dari cerita-cerita rakyat dengan memakai media tradisional. Media tradisional sering disebut sebagai bentuk folklor. Bentuk-bentuk folklor tersebut antara lain:
a. Cerita prosa rakyat (mite, legenda, dongeng);
b. Ungkapan rakyat (peribahasa, pemeo, pepatah);
c. Puisi rakyat;
d. Nyayian rakyat;
e. Teater rakyat;
f. Gerak isyarat (memicingkan mata tanda cinta);
g. Alat pengingat (mengirim sisrih berarti meminang); dan
h. Alat bunyi-bunyian (kentongan, gong, bedug dan lain-lain).
Ditinjau dari aktualitasinya, ada seni tradisional seperti wayang purwa, wayang golek, ludruk, kethoprak, dan sebagainya. Saat ini media tradisional telah mengalami transformasi dengan media massa modern. Dengan kata lain, ia tidak lagi dimunculkan secra apa adanya, melainkan sudah masuk ke media televisi (transformasi) dengan segala penyesuaiannya. Misal acara seni tradisional wayang kulit yang disiarkan oleh oleh suatu televisi swasta.
C. Fungsi Media Tradisional
William Boscon (dalam Nurudin, 2004) mengemukakan fungsi-fungsi pokok folklor sebagai media tradisional adalah sebagai berikut:
Sebagai sistem proyeksi. Folklor menjadi proyeksi angan-angan atau impian rakyat jelata, atau sebagai alat pemuasan impian (wish fulfilment) masyarakat yang termanifestasikan dalam bentuk stereotipe dongeng. Contohnya adalah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, cerita ini hanya rekaan tentang angan-angan seorang gadis desa yang jujur, lugu, menerima apa adanya meskipun diperlakukan buruk oleh saudara dan ibu tirinya, namun pada akhirnya berhasil menikah dengan seorang raja, cerita ini mendidik masyarakat bahwa jika orang itu jujur, baik pada orang lain dan sabar akan mendapat imbalan yang layak.
Sebagai penguat adat. Cerita Nyi Roro Kidul di daerah Yogyakarta dapat menguatkan adat (bahkan kekuasaan) raja Mataram. Seseorang harus dihormati karena mempunyai kekuatan luar biasa yang ditunjukkan dari kemapuannya memperistri ”makhluk halus”. Rakyat tidak boleh menentang raja, sebaliknya rasa hormat rakyat pada pemimpinnya harus dipelihara. Cerita ini masih diyakini masyarakat, terlihat ketika masyarakat terlibat upacara labuhan (sesaji kepada makhluk halus) di Pantai Parang Kusumo.
Sebagai alat pendidik. Contohnya adalah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, cerita ini mendidik masyarakat bahwa jika orang itu jujur, baik pada orang lain dan sabar akan mendapat imbalan yang layak.
Sebagai alat paksaan dan pengendalian sosial agar norma-norma masyarakat dipatuhi. Cerita ”katak yang congkak” dapat dimaknai sebai alat pemaksa dan pengendalian sosial terhadap norma dan nilai masyarakat. Cerita ini menyindir kepada orang yang banyak bicara namun sedikit kerja.
Sifat kerakyatan bentuk kesenian ini menunjukkan bahwa ia berakar pada kebudayaan rakyat yang hidup di lingkungannya. Pertunjukkan-pertunjukkan semacam ini biasanya sangat komunikatif, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat pedesaan. Dalam penyajiannya, pertunjukkan iniini biasanya diiringi oleh musik daerah setempat (Direktorat Penerangan Rakyat, dalam Jahi, 1988).
Ranganath (1976), menuturkan bahwa media tradisional itu akrab dengan massa khalayak, kaya akan variasi, dengan segera tersedia, dan biayanya rendah. Ia disenangi baik pria ataupun wanita dari berbagai kelompok umur. Secara tradisional media ini dikenal sebagai pembawa tema. Disamping itu, ia memiliki potensi yang besar bagi komunikasi persuasif, komunikasi tatap muka, dan umpan balik yang segera. Ranganath juga memepercayai bahwa media tradisional dapat membawa pesan-pesan modern.
Eapen (dalam Jahi, 1988) menyatakan bahwa media ini secara komparatif murah. Ia tidak perlu diimpor, karena milik komunitas. Di samping itu, media ini tidak akan menimbulkan ancaman kolonialisme kebudayaan dan dominasi ideologi asing. Terlebih lagi, kredibilitas lebih besar karana ia mempertunjukkan kebolehan orang-orang setempat dan membawa pesan-pesan lokal, yang tidak berasal dari pemerintah pusat. Media rakyat ini bersifat egaliter, sehingga dapat menyalurkan pesan-pesan kerakyatan dengan lebih baik daripada surat kabar yang bersifat elit, film, radio, dan televisi yang ada sekarang ini.
Sifat-sifat umum media tradisional ini, antara lain mudah diterima, relevan dengan budaya yang ada, menghibur, menggunakan bahasa lokal, memiliki unsur legitimasi, fleksibel, memiliki kemampuan untuk mengulangi pesan yang dibawanya, komunikasi dua arah, dan sebagainya. Disssanayake (dalam Jahi,1988) menambahkan bahwa media tradisional menggunakan ungkapan-ungkapan dan simbol-simbol yang mudah dipahami oleh rakyat, dan mencapai sebagaian dari populasi yang berada di luar jangkauan pengaruh media massa, dan yang menuntut partisipasi aktif dalam proses komunikasi.
D. Keberadaan Media Tradisional
Pada masa silam, media tradisional pernah menjadi perangkat komunikasi sosial yang penting. Kinipenampilannya dalam masyarakat telah surut. Di Filipina, Coseteng dan Nemenzo (dalam Jahi, 1988) melaporkan bahwa surutnya penampilan media ini antara lain karena:
1. Diperkenalkannya media massa dan media hiburan modern seperti media cetak, bioskop, radio, dan televisi.
2. Penggunaan bahasa Inggris di sekolah-sekolah, yang mengakibatkan berkurangnya penggunaan dan penguasaan bahasa pribumi, khususnya Tagalog.
3. Semakin berkurangnya jumlah orang-orang dari generasi terdahulu yang menaruh minat pada pengembangan media tradisional ini, dan
4. Berubahnya selera generasi muda.
Di Indonesia, situasinya kurang lebih sama. Misalnya, beberapa perkumpulan sandiwara rakyat yang masih hidup di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang biasanya mengadakan pertunjukkan keliling di desa-desa, ternyata kurang mendapat penonton, setelah televisi masuk ke desa. Hal ini, mencerminkan bahwa persaingan media tradisional dan media modern menjadi semakin tidak berimbang, terlebih lagi setelah masyarakat desa mulai mengenal media hiburan modern seperti kaset video.
Pertunjukkan rakyat yang kebanyakan menggunakan bahasa daerah mulai ditinggalkan orang, terutama setelah banyak warga masyarakat menguasai bahasa Indonesia. Di pihak lain, jumlah para seniman yang menciptakan dan memerankan pertunjukkan-pertunjukkan tradisional itupun semakin berkurang. Generasi baru nampaknya kurang berminat untuk melibatkan diri dalam pengembangan pertunjukkan tradisional yang semakin kurang mendapat sambutan khalayak ini.
Surutnya media tradisional ini dicerminkan pula oleh surutnya perhatian para peneliti komunikasi pada media tersebut. Schramm dan Robert (dalam Ragnarath, 1976) melaporkan bahwa antara tahun 1954 dan 1970 lebih banyak hasil penelitian komunikasi yang diterbitkan dari masa sebelumnya. Akan tetapi dalam laporan-laporan penelitian itu tidak terdapat media tradisional. Berkurangnya minat masyarakat pada media tradisional ini ada hubungannya dengan pola pembangunan yang dianut oleh negara dunia ketiga pada waktu itu. Ideologi modernisasi yang populer saat itu, mendorong negara-negara tersebut untuk mengikuti juga pola komunikasi yang dianjurkan. Dalam periode itu kita menyaksikan bahwa tradisi lisan mulai digantikan oleh media yang berdasarkan teknologi. Sebagai akibatnya, komunikasi menjadi linear dan satu arah.
Untuk mempercepat laju pembangunan, banyak negara yang sedang berkembang di dunia ketiga menginvestasikan dana secara besdar-besaran pada pembangunan jaringan televisi, dan akhir-akhirnya pada komunikasi satelit (Wang dan Dissanayake, dalam Jahi, 1988). Mereka lupa bahwa investasi besar pada teknologi komunikasi itu, jika tidak diiringi oleh investasi yang cukup pada perangkat lunaknya, akan menimbulkan masalah serius di kemudian hari. Kekuarangan ini menjadi kenyataan tidak lama setelah mereka mulai mengoperasikan perangkat keras media besar itu. Mereka segera mengalami kekuarangan program yang sesuai dengan dengan situasi dan kebutuhan domestik, dan juga mengalami kesulitan besar dalam pembuatan program-program lokal. Kesulitan ini timbul karena terbatasnya sumber daya manusiawi yang terlatih untuk membuat program-program lokal yang kualitasnya dapat diterima masyarakat dan besarnya biaya produksi.
Situasi ini mengakibatkan negara-negara dunia ketiga itu mengambil jalan pintas dengan jalan mengimpor banyak program berita maupun hiburan dari negara-negara maju. Keluhan yang timbul kemudian ialah bahwa isi program-program tersebut tidak sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan domestik. Kecenderungan ini tentunya sangat berbahaya, karena dapat mengikis kebudayaan asli dan merangsang tumbuhnya konsumerisme yang kurang sesuai dengan perkembang di negeri itu.
Perhatian para peneliti komunikasi pada media tradisional, bangkit kembali setelah menyaksikan kegagalan media massa, dan kegagalan pembangunan di banyak negara dunia ketiga dalam dasawarsa 1960. media tradisonal secara pasti dan mantap mulai dikaji kembali pada dasawarsa 1960 di negara-negara sedang berkembang di Asia dan Afrika. Kemungkinan untuk memanfaatkan media ini secara resmi mulai ditelusuri. UNESCO pada tahun 1972 menyarankan penggunaan media tradisional secara terorganisasikan dan sistematik dapat menumbuhkan motivasi untuk kerja bersama masyarakat. Yang tujuan utamanya tidak hanya bersifat pengembangan sosial dan ekonomi, tetapi juga kultural (Ranganath, 1976)
Kemudian Ranganath (1976) menunjukkan peristiwa-peristiwa internasional yang menaruh perhatian pada pengembangan dan pendayagunaan media tradisional bagi pembangunan. Salah satu di antaranya ialah seminar yang dilaksanakan oleh East West Communication Institute di Hawai, yang menegaskan kembali bahwa strtegi komunikasi modern di negara-negara yang sedang berkembang akan mengalami kerugian besar, jika tidak didukung oleh media tradisional.
E. Peran Media Tradisional dalam Sistem Komunikasi
Media tradisional mempunyai nilai yang tinggi dalam sitem komunikasi karena memiliki posisi khusus dalam sistem suatu budaya. Kespesifikan tanda-tanda informasi yang dilontarkan dalam pertunjukkan-pertunjukkan tradisional itu maupun konteks kejadian, mengakibatkan orang-orang berasal dari sistem budaya lain sulit menyadari, memahami, dan menghayati ekspresi kesenian yang bersifat verbal, material, maupun musik yang ditampilkan (Compton, 1984).
Kesulitan tersebut berasal dari kerumitan untuk memahami tanda-tanda nonverbal yang ditampilkan, yang umumnya tidak kita sadari. Demikian juga dengan tidak memadainya latar belakang kita untuk memahami simbolisme religi dan mitologi yang hidup disuatu daerah, tempat pertunjukan tradisional itu terjadi.
Sebagian dari media rakyat ini, meskipun bersifat hiburan dapat juga membawa pesan-pesan pembangunan. Hal ini dapat terjadi karena media tersebut juga menjalankan fungsi pendidikan pada khalayaknya. Oleh karena itu, ia dapat digunakan untuk menyampaikan pengetahuan kepada khalayak(warga masyarakat). Ia dapat juga menanamkan dan mengukuhkan nilai-nilai budaya, norma sosial, dan falsafah sosial (Budidhisantosa, dalam Amri Jahi 1988).
Walaupun demikian, bertolak belakang dengan keoptimisan ini, para ahli memperingatkan bahwa tidak seluruh media tradisional cukup fleksibel untuk digunakan bagi maksud-maksud pembangunan. Karena memadukan yang lama dan yang baru tidak selamanya dapat dilakukan dengan baik. Kadang-kadang hal semacam ini malah merusak media itu, sehingga kita harus waspada (Dissanayake, 1977). Masalah-masalah dihadapi dalam penggunaan seni pertunjukkan tradisional untuk maksud pembangunan, sebanrnya ialah bagaimana menjaga agar media tersebut tidak mengalami kerusakan. Oleh karena pertunjukkan tradisional ini memadukan berbagai unsur kesenian yang bernilai tinggi, yang menuntut kecanggihan maka dukungan seni sangat penting dalam medesain pesan-pesan pembangunan yang akan disampaikan (Siswoyo, dalam Amri Jahi 1988).
Meskipun banyak kesulitan yang dihadapi dalam menyesuaikan penggunaan media tradisional bagi kepentingan pembangunan, riset menunjukkan bahwa hal itu masih mungkin dilakukan. Pesan-pesan pembangunan dapat disisipkan pada pertunjukkan-pertunjukkan yang mengandung percakapan, baik yang bersifat monolog maupun dialog, dan yang tidak secara kaku terikat pada alur cerita. Wayang misalnya, salah satu pertunjukkan tradisional yang terdapat di jawa, Bali, dan daerah-daerah lain di Indonesia, yang dapat dimanfaatkan sebagai media penerangan pembangunan. Pertunjukkan biasanya menampilkan episode-episode cerita kepahlawanan Hindu seperti Ramayana dan Mahabarata. Pertunjukkan wayang biasanya disampaikan dalam bahasa daera misalnya bahasa jawa, Sunda, atau Bali yang diiringi nyanyian dan musik yang spesifik. Bagi orang-orang tua yang masih tradisional, wayang lebih daripada sekedar hiburan. Mereka menganggap wayang sebagai perwujudan moral, sikap, dan kehidupan mistik yang sakral. Pertunjukkan tersebut selalu menekankan perjuangan yang baik melawan yang buruk. Biasanya yang baik setelah mkelalui perjuangabn yang panjang dan melelahkan akan mendapat kemenangan. Disamping itu moralitas wayang mengajarkan juga cara memperoleh pengetahuan, kedamaian pikiran, dan sikap positif yang diperlukan untuk mencapai kesempurnaan hidup.
Episode-episode cerita wayang cukup ketat. Namun, pesan-pesan pembangunan masih dapat disisipkan dalam dialog-dialog yang dilakukan. Banyak episode wayang yang dapat dipilih dan dipertunjukkan dalam kesempatan-kesempatan tertentu. Misalnya, untuk menumbuhkan semangat rakyat dalam perang kemerdekaan, mengisi kemerdekaan, integrasi bangsa, dan sebagainya. Pada zaman revolusi kemerdekaan Indonesia (1945-1949) Departemen Penerangan menciptakan wayang suluh untuk melancarkan kampanye perjuangan. Mereka menampilkan tokoh-tokoh kontemporer seperti petani, kepala desa, pejuang, serdadu Belanda, Presiden Sukarno, dan sebagainya. Wayang suluh ini, pada dasarnya, menceritakan perjuangan para pemimpin dan rakyat Indonesia menuju Kemerdekaan.
DAFTAR PUSTAKA
Nurudin, 2004, Sistem Komunikasi Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Amri Jahi, 1988, Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di Negara-Negara Dunia Ketiga, PT Gramedia, Jakarta
Abdul Muis, 1984, Communicating New Ideas to Traditional Villagers: an Indonesian Case, Media Asia 11
Ranganath, 1976, Telling the People Tell Themselves, Media Asia 3
Monday, May 24, 2010
Revisi Proposal Metode Penelitian Sosial
(PADA MAHASISWA KOMUNIKASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG)
A. Latar Belakang Masalah
Sebagai salah satu elemen yang tidak dapat terpisahkan dalam dunia modern, media saat ini telah menjadi instrumen paling penting dalam memberikan mimpi bagi sebagian besar orang untuk menjadi populer secara instan dalam waktu singkat. Masih segar dalam ingatan ketika ajang Akademi Fantasi Indosiar muncul untuk kali pertama, disusul Indonesian Idol, dan lain sebagainya. Saat ini, acara yang serupa pun masih tetap ada dengan varian yang semakin banyak. Media dalam hal ini turut andil dalam menyebarkan demam ajang pencarian bakat, lihat saja betapa orang berbondong-bondong datang dan mendaftar dalam berbagai ajang tersebut.
Tentu saja media tidak hanya berperan membuat orang terkenal dalam berbagai kontes, bahkan dalam yang ‘menguras air mata’ pun media turut ambil bagian. Media menjadikan kisah sedih hidup seseorang menjadi suatu komoditas jual yang laris dipasaran, di mana terdapat berbagai acara yang menjadikan air mata dan kehidupan sedih yang terlalu didramatisasi sebagai nilai jual. Acara seperti Kejamnya Dunia menjual tragedi drama kehidupan manusia, maupun acara Termehek-mehek yang menjual kisah sedih percintaan. Tentu saja komersialisasi air mata tidak selalu berkaitan dengan acara yang ‘menyedihkan’, namun juga dalam acara yang ‘menggembirakan’. Ketika salah satu peserta AFI dieliminasi, media menjadikan air mata yang keluar sebagai nilai tambah acara tersebut, demikian pula ketika seorang perempuan dinobatkan sebagai Putri Indonesia, air mata pun kembali menjadi komoditas utama. Media dalam hal ini berperan sebagai pisau bermata ganda, di satu sisi media menjadi jalan bagi semua orang untuk menjadi idola dalam waktu instan, namun di sisi yang lain acara tersebut pun, tidak dapat dipungkiri, memiliki nilai jual yang cukup tinggi.
Demam obsesi menjadi idola telah berlangsung di Indonesia cukup lama, hanya saja gaungnya sangat terasa dalam enam tahun ke belakang. Ketika Akademi Fantasi Indosiar untuk kali pertama muncul pada tahun 2000, ribuan orang dari berbagai profesi dan tingkatan umur menyerbu Indosiar, demikian pula ketika Indonesian Idol dilaksanakan untuk musim pertama. Ajang pencarian bakat memang bukan hal baru, sebelumnya telah kontes-kontes yang sama. Asia Bagus tahun 1992 misalnya, berhasil menelurkan Krisdayanti sebagai salah satu pemenang dan tetap eksis hingga saat ini.
Negara Indonesia boleh jadi merupakan negara yang memiliki media massa yang sangat kreatif ketimbang negara Asia lainnya. Media di Indonesia memiliki kebebasan untuk menciptakan berbagai kegiatan yang ditujukan untuk kepentingan media itu sendiri, meskipun dalam banyak hal mereka pun seringkali mengatasnamakan masyarakat luas. Begitu luasnya pengaruh media di masyarakat sehingga dapat dipungkiri bahwa media telah menjadi bagian integral dalam kehidupan masyarakat. Mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur media menyuguhkan berbagai varian acara melalui berbagai medium, apakah itu televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain sebagainya. Sebagai bagian integral dalam kehidupan masusia modern, media turut serta dalam berbagai usaha menyampaikan informasi, bahkan media telah bertindak lebih jauh, media menjadi penghantar paling baik dalam menyebarkan “demam” di masyarakat.
Kasus ‘obsesi jadi bintang’ adalah salah satu kasus yang paling baik yang dapat dilihat, betapa media telah menjadi penghantar yang sangat sempurna dalam menyebarkan demam idol tersebut. Demam itu tidak hanya menyebar di wilayah perkotaan besar, namun juga di kota-kota kecil hingga ke pelosok pedalaman dan desa terpencil. Media merupakan wahana penyampaian informasi yang luar biasa luas dan dapat diakses oleh siapapun, tentu saja dengan satu syarat bahwa sarana penyebarannya sudah dapat dijangkau. Rasanya sulit menemukan satu wilayah yang sepenuhnya terisolir dari media, terutama televisi.
Media memberikan jalan yang sangat luas bagi siapapun untuk menjadi orang terkenal, tidak peduli apa jenis kelamin anda, berapa umur anda, atau bagaimana kondisi anda saat ini. Berbagai acara ajang pencarian bakat memang memberikan jalan bagi setiap orang untuk mencapai impiannya, namun bagaimana dengan mereka yang secara fisik ‘tidak sempurna?’, media pun memberikan jalan bagi orang-orang semacam ini. Pernah kah merasa tersentuh ketika melihat acara Jalinan Kasih atau Kejamnya Dunia? Media memiliki peran yang luar biasa yang membuat mereka menjadi artis mendadak dengan penampilan yang riil. Terlepas dari fakta bahwa mereka bukan lah golongan yang beruntung atau berlimpah secara materi, namun media menjadikan kisah sedih hidup mereka sebagai komoditas jual.
Air mata memang medium yang menarik sebagai salah satu komoditas jual yang luar biasa. Ketika Nania dinyatakan harus kalah dari Delon dan Joy semua pendukung Nania menangis, meskipun Nania tidak lah secara dramatis menangis berderai air mata di panggung, namun aura kesedihan memang menyeruak hebat. Indra Lesmana bahkan secara pribadi menyatakan akan membuatkan satu lagu untuk Nania, terlepas dari motif di balik tindakan tersebut, namun setidaknya Indra berusaha mengurangi kesedihan Nania. RCTI sebagai penyelenggara memang agak mendramatisir kekalahan Nania, tiba-tiba dalam waktu satu minggu Nania telah menjadi selebritis baru, dirinya masuk dalam acara infotainmen dan menjadi perbincangan banyak orang.
Tingkah laku penggemar yang menangis ketika jagoannya tersisih atau bahkan menang tidak hanya terjadi di Indonesia. Ketika David Cook dinyatakan sebagai pemenang American Idol mengalahkan David Archuleta, semua orang menangis, baik pendukung Cook dan Archuleta menangis, meskipun dengan alasan yang berbeda. Air mata telah berubah menjadi komoditas penting yang membuat ajang pencarian bakat lebih menarik untuk disaksikan. Saya pun menyadari betapa hambarnya acara ini jika tanpa diiringi oleh drama, air mata, dan isak tangis; justru hal ini lah yang membuat acara ini disebut reality show, sebuah acara yang mempertunjukkan realitas sebagaimana adanya.
Teori yang dapat digunakan untuk menganalisa fenomena obsesi menjadi idola di atas adalah Teori Jarum Hipodermik (hypodermic needle theory). Menurut teori ini media massa mempunyai kekuatan yang sangat besar untuk mempersuasi audiencenya dan menganggap audiencenya pasif. Dan dari audience yang pasif akan persuasi dari tayangan-tayangan ajang pencarian bakat tersebut muncul individu-individu yang terobsesi menjadi idola seperti apa yang mereka lihat di media massa.
Dari latar belakang masalah di atas, penelitian ini sangat diharapkan dapat memberikan informasi tentang pengaruh kekuatan persuasi media massa terhadap fenomena demam menjadi idola yang sedang melanda tidak hanya generasi muda saja tetapi semua generasi.
B. Rumusan Masalah
1. Adakah pengaruh kekuatan persuasi media massa terhadap fenomena obsesi menjadi idola pada mahasiswa komunikasi UMM?
2. Sejauhmana pengaruh kekuatan persuasi media massa terhadap fenomena obsesi menjadi idola pada mahasiswa komunikasi UMM?
C. Tujuan
1. Ingin mengetahui ada tidaknya pengaruh kekuatan persuasi media massa terhadap fenomena demam menjadi idola pada mahasiswa komunikasi UMM.
2. Ingin mengetahui sejauhmana pengaruh kekuatan persuasi media massa terhadap fenomena demam menjadi idola pada mahasiswa komunikasi UMM.
D. Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian adalah follow up penggunaan informasi yang tertera dalam kesimpulan (Dhofir, 2000:21).
Dari setiap penelitian yang dilakukan dipastikan dapat memberi manfaat baik bagi objek, atau peneliti khususnya dan juga bagi seluruh komponen yang terlibat didalamnya. Manfaat atau nilai guna yang bisa diambil dari penulisan proposal penelitian sosial ini adalah :
1. Segi Teoritis
a. Untuk pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam disiplin ilmu komunikasi.
b. Untuk memperkuat teori bahwa kekuatan persuasi media massa dalam efek pengaruh media massa sangat mempengaruhi audience.
2. Segi Praktis
a. Dengan adanya penelitian ini diharapkan audience terutama mahasiswa komunikasi dapat menyaring efek dari persuasi media massa yang sangat kuat pengaruhnya khususnya pada fenomena demam menjadi idola.
b. Hasil dari Penelitian ini dapat memberikan pemahaman bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang tentang kebiasaan efek dari persuasi media massa terhadap fenomena demam menjadi idola sehingga mereka mampu untuk melihat realita yang ada.
c. Sebagai bahan munaqosyah dan bahan dokumen untuk penelitian lebih lanjut.
E. Tinjauan Pustaka
Untuk mempelajari media massa khususnya kekuatan persuasinya, harus diakui bahwa peran gatekeeper sangatlah vital dalam melayani konsumennya. Faktanya, media massa muncul untuk meyakinkan tingkah laku, nilai dan maksud pengirim adalah kepentingan lebih besar daripada penerima. Dalam literature komunikasi massa terdapat teori yang disebut teori jarum hipodermik (hypodermic needle theory) atau teori peluru (bullet theory). Teori ini mempunyai pengaruh yang sangat kuat yang mengasumsikan bahwa para pengelola media dianggap sebagai orang yang lebih pintar dibanding audience. Akibatnya, audience bisa dikelabui sedemikian rupa dari apa yang disampaikan media massa.
Teori ini mengasumsikan media massa mempunyai pemikiran bahwa audience bisa ditundukkan sedemikian rupa atau bahkan bisa dibentuk dengan cara apapun yang dikehendaki media atau dengan kata lain audience dianggap pasif. Intinya, sebagaimana dikatakan oleh Jason dan Anne Hill (1997), media massa dalam teori Jarum Hipodermik mempunyai efek langsung “disuntikkan” ke dalam ketidaksadaran audience.
Berbagai perilaku yang diperlihatkan televisi dalam adegan filmnya member rangsangan masyarakat untuk menirunya. Padahal semua orang tahu bahwa apa yang disajikan itu semua bukan yang terjadi sebenarnya. Akan tetapi, kerena begitu kuat pengaruh televisi, audience tidak kuasa untuk melepaskan diri dari keterpengaruhan itu. Jika dibandingkan dengan media massa lain, televisi sering dituduh sebagai agen yang bisa mempengaruhi lebih banyak sikap dan perilaku audiencenya.
- Dalam melakukan kegiatan komunikasi, seorang komunikator yang melakukan kegiatan persuasi (bujukan) dan sering dikatakan bahwa sebetulnya kegiatan komunikator ketika menyampaikan pesan itu sama dengan kegiatan pembujuk atau persuader. Artinya, bagi pemberi pesan melakukan persuasi tersebut merupakan tujuan dari proses komunikasi yang dilakukan dan persuasi (komunisuasi) itu merupakan proses belajar yang bersifat emosional atau perpindahan anutan dari hal yang lama ke hal yang baru melalui penanaman suatu pengertian dan pemahaman. Menurut Otto Lerbinger di dalam bukunya Design for persuasive communication, ada beberapa model untuk merekayasa persuasi, antara lain sebagai berikut.
a. Stimulus Respons
Model persuasi ini cara yang paling sederhana, yaitu berdasarkan konsep asosiasi. Misalnya jika seseorang selalu kelihatan berdua terus-menerus sepanjang waktu dan satu saat hanya terlihat sendiri, maka orang lain akan merasakan ada sesuatu yang kurang lengkap dan sudah dipastikan orang akan bertanya ke mana temannya itu. Melalui slogan atau magic word tertentu dalam iklan seperti kata-kata “three in one”, orang akan ingat pembatasan penumpang minimal tiga orang dalam satu mobil ketika melewati Jalan Protokol, Jalan Tamrin, dan Jalan Sudirman, Jakarta pada jam tertentu.
Oleh karena itu, untuk mengingatkan orang, kata-kata populer “Three in one” tersebut digunakan pada produk shampoo, Dimension.
b. Kognitif
Model ini berkaitan dengan nalar, pikiran dan rasio untuk peningkatan pemahaman, mudah dimengerti, dan logis bisa diterima. Dalam melakukan persuasi pada posisi ini, komunikator dan komunikan lebih menekankan penjelasan yang rasional dan logis. Artinya, ide atau informasi yang disampaikan tersebut tidak bisa diterima sebelum dikenakan alasan yang jelas dan wajar.
c. Motivasi
Motivasi yaitu persuasi dengan model membujuk seseorang agar mau mengubah opininya atau agar kebutuhan yang diperlukan dapat terpenuhi dengan menawarkan sesuatu ganjaran tertentu. Dengan memotivasi melalui pujian, hadiah, dan iming-iming janji tertentu melalui berkomunikasi, maka lambat-laun orang bersangkutan bisa mengubah opininya.
d. Sosial
Model persuasi ini menganjurkan pada pertimbangan aspek sosial dari publik atau komunikan, artinya pesan yang disampaikan itu sesuai dengan status sosial yang bersangkutan sehingga proses komunikasi akan lebih mudah dilakukan. Misalnya, kampanye iklan mobil mewah lebih berhasil kalau menonjolkan sesuatu yang “prestise” daripada menampilkan kelebihan mesin dan irit bahan bakarnya karena konsumen berduit lebih memperhatikan penampilan status sosialnya.
e. Personalitas
Model persuasi di sini memperhatikan karakteristik pribadi sebagai acuan untuk melihat respon dari khalayak tertentu.
- Fenomena dari bahasa Yunani; phainomenon, "apa yang terlihat", dalam bahasa Indonesia bisa berarti:
1. Gejala, misalkan gejala alam
2. Hal-hal yang dirasakan dengan pancaindra
3. Hal-hal mistik atau klenik
4. Fakta, kenyataan, kejadian.
- Obsesi menurut kamus Wikipedia merupakan dorongan semangat untuk berbuat, memiliki atau mencapai sesuatu. Dalam hal ini obsesi yang dimaksudkan adalah dorongan semangat untuk menjadi seorang idola.
- Menurut kamus idola berasal dari kata Bahasa Inggris idol yang artinya ialah berhala, atau patung.
- Mengikut takrifan kamus Oxford (Edisi ketiga 2001), IDOL dalam bahasa Inggris idola membawa maksud patung; berhala; pujaan; orang atau benda yang terlampau disanjung. Dalam konteks pengunaan, perkataan ini lebih sesuai menjurus kepada pemujaan benda, patung atau berhala.
F. Hipotesis
Karena masalah yang diteliti ini merupakan usaha untuk mencari ada tidaknya pengaruh, maka ada dua hipotesis yang muncul, yakni :
- Hipotesis kerja (H0) :
Adanya pengaruh kekuatan persuasi media massa terhadap fenomena obsesi menjadi idola (pada mahasiswa komunikasi UMM).
- Hipotesis nihil (H1) :
Tidak ada pengaruh kekuatan persuasi media massa terhadap fenomena obsesi menjadi idola (pada mahasiswa komunikasi UMM).
G. Ruang Lingkup Penelitian
1. Ruang Lingkup Materi
Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah pengaruh kekuatan persuasi media massa terhadap fenomena obsesi menjadi idola (pada mahasiswa komunikasi UMM).
Maka untuk mempermudah penulis dalam membahas penelitian ini, perlu kiranya penulis membuat batasan ruang lingkup materi. Adapun permasalahan yang menjadi kajian pokok dalam penelitian ini adalah terdiri dari dua variable, yakni :
• Variabel X : Kekuatan persuasi media massa
• Variable Y : Fenomena obsesi menjadi idola (pada mahasiswa komunikasi UMM).
2. Ruang Lingkup Subjek
Subjek penelitian adalah sesuatu yang menjadi kajian pokok penelitian. Maka dari ini yang menjadi subjek adalah mahasiswa komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.
3. Ruang Lingkup Lokasi
Lokasi adalah tempat sesuatu berada. Maka dalam hal ini adalah tempat subjek berada. Jadi lokasi penelitian ini adalah di FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.
4. Ruang Lingkup Waktu
Waktu adalah masa kapan terjadinya sesuatu. Dalam hal ini waktu penelitian adalah pada tahun 2010.
H. Metode Penelitian
1. Rancangan Penelitian
Dalam kegiatan penelitian, kerangka atau rancangan penelitian merupakan unsur pokok yang harus ada sebelum proses penelitian dilaksanakan. Karena dengan sebuah rancangan yang baik pelaksanaan penelitian menjadi terarah, jelas, dan maksimal.
Terkait dengan penelitian ini, maka penulis menggunakan jenis penelitian korelasional kuantitatif, yaitu sebuah penelitian yang menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data, serta penampilan dari hasilnya yang bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan antara dua variabel (Arikunto, 2006:270).
2. Teknik Penentuan Subjek Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian populasi, dimana seluruh populasi merupakan sample.
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang mencakup semua elemen dan unsur-unsur (Dhofir, 2000:36). Sedangkan sampel masih dalam buku yang sama, adalah sebagian subjek penelitian yang memiliki kemampuan mewakili seluruh data (populasi).
Dalam hal ini yang menjadi subjek penelitian adalah mahasiswa komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.
3. Teknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data adalah cara yang dipakai untuk mengumpulkan data dengan menggunakan metode-metode tertentu. Metode-metode yang akan digunakan dalam penelitian ini, antara lain :
a. Metode Angket
Angket adalah suatu teknik atau alat pengumpul data yang berbentuk pertanyaan-pertanyaan tertulis yang harus dijawab secara tertulis pula (Sukmadinata, 2004:271). Metode ini digunakan untuk mencari dan menyaring data yang bersumber dari responden.
Di sini peneliti akan memberikan 20 pertanyaan dalam bentuk pilihan ganda berhubungan dengan masalah yang akan diteliti. Angket akan disebarkan sebanyak 25% dari jumlah populasi subjek yaitu 25 angket untuk 25 koresponden.
b. Metode Wawancara
Wawancara atau interview merupakan suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan secara tatap muka, pertanyaan diberikan secara lisan dan jawabannyapun diterima secara lisan pula (Sukmadinata, 2004:222). Dengan metode ini peneliti dapat langsung mengetahui reaksi yang ada pada responden dalam waktu yang relatif singkat.
Metode wawancara digunakan peneliti untuk menambahkan hasil data. Peneliti akan melakukan wawancara kepada 25% dari jumlah populasi subjek sama dengan koresponden yang dibagikan angket.
4. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data merupakan pengelolaan data dari data-data yang sudah terkumpul. Diharapkan dari pengelolaan data tersebut dapat diperoleh gambaran yang akurat dan konkrit dari subjek penelitian. Penulis juga menggunakan statistik guna membantu analisa data sebagai hasil dari penelitian ini.
Dalam penelitian ini yang menjadi Variabel X adalah Kekuatan Persuasi Media Massa, sedangkan Variabel Y adalah Fenomena Obsesi Menjadi Idola (pada Mahasiswa UMM). Adapun rumus korelasi yang digunakan adalah Product Moment, dengan alasan karena penelitian ini terdiri dari dua variabel yang interval dan memiliki korelasi.
Rumus product momentnya adalah sebagai berikut :
∑xy
πxy = √(∑x²) (∑y²)
Keterangan :
πxy = Kofisien korelasi antara gejala X dan gejala Y
∑xy = Jumlah product X dan Y
∑x² = Jumlah gejala x kecil kuadrat
∑y² = Jumlah gejala y kecil kuadrat
Daftar Pustaka
Dhofir, Syarqowi, 2000. Pengantar Metodologi Riset Denagn Spektrum Islami, Prenduan: Iman Bela
Fisher, B. Aubrey, 1986. Teori-teori Komunikasi. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat, Penerjemah: Soejono Trimo. Bandung: Remaja Rosdakarya.
http://accentesensi.wordpress.com/2008/08/06/obsesi-cita-cita-dan-ambisi/
http://forumm.wgaul.com/archive/index.php/t-30833.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Fenomena
http://id.wikipedia.org/wiki/Idol
Mulyana, Dedy, 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif (Paradigma Baru Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nurudin, M.Si, 2009. Pengantar Komunikasi Massa, Jakarta: Rajawali Pers
Purwadarminto, W.J.S Winkel; 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka
Sukmadinata, Nana Syaodih; 2004. Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya
Wednesday, April 28, 2010
List of Miss Universe Titleholder
Year Miss Universe National title Country Location Venue 1952 Armi Kuusela Suomen Neito Finland Long Beach,USA Long Beach Municipal Auditorium 1953 Christiane Martel Miss France France Long Beach,USA Long Beach Municipal Auditorium 1954 Miriam Stevenson Miss USA USA Long Beach,USA Long Beach Municipal Auditorium 1955 Hillevi Rombin Fröken Sverige Sweden Long Beach,USA Long Beach Municipal Auditorium 1956 Carol Morris Miss USA USA Long Beach,USA Long Beach Municipal Auditorium 1957 Gladys Zender Miss Peru Peru Long Beach,USA Long Beach Municipal Auditorium 1958 Luz Marina Zuluaga Señorita Colombia Colombia Long Beach,USA Long Beach Municipal Auditorium 1959 Akiko Kojima Miss Universe Japan Japan Long Beach,USA Long Beach Municipal Auditorium 1960 Linda Bement Miss USA USA Miami Beach,USA Miami Beach Auditorium 1961 Marlene Schmidt Miss Germany Germany Miami Beach,USA Miami Beach Auditorium 1962 Norma Nolan Belleza Argentina Argentina Miami Beach,USA Miami Beach Auditorium 1963 Ieda Maria Vargas Miss Brasil Brazil Miami Beach,USA Miami Beach Auditorium 1964 Corinna Tsopei Star Hellas Greece Miami Beach,USA Miami Beach Auditorium 1965 Apasra Hongsakula Miss Thailand Thailand Miami Beach,USA Miami Beach Auditorium 1966 Margareta Arvidsson Fröken Sverige Sweden Miami Beach,USA Miami Beach Auditorium 1967 Sylvia Hitchcock Miss USA USA Miami Beach,USA Miami Beach Auditorium 1968 Martha Vasconcellos Miss Brasil Brazil Miami Beach,USA Miami Beach Auditorium 1969 Gloria Maria Diaz Binibining Pilipinas Philippines Miami Beach,USA Miami Beach Auditorium 1970 Marisol Malaret Contreras Miss Puerto Rico Puerto Rico Miami Beach,USA Miami Beach Auditorium 1971 Georgina Rizk Miss Lebanon Lebanon Miami Beach,USA Miami Beach Auditorium 1972 Kerry Anne Wells Miss Australia Australia Dorado, Puerto Rico Cerromar Beach Hotel 1973 Maria Margarita Moran Binibining Pilipinas Philippines Athens, Greece Odeon of Herodes Atticus 1974 Amparo Muñoz Miss España Spain Manila, Philippines Folk Arts Theater 1975 Anne Marie Pohtamo Miss Finland Finland San Salvador, El Salvador National Gymnasium 1976 Rina Messinger Malket Hayofi Israel Hong Kong Lee Theatre 1977 Janelle Commissiong Miss Trinidad & Tobago Trinidad and Tobago Santo Domingo, Dominican Republic Teatro Nacional 1978 Margaret Gardiner Miss South Africa South Africa Acapulco, Mexico Centro de Convenciones de Acapulco 1979 Maritza Sayalero Miss Venezuela Venezuela Perth, Australia Perth Entertainment Centre 1980 Shawn Weatherly Miss USA USA Seoul, South Korea Sejong Cultural Center 1981 Irene Sáez Miss Venezuela Venezuela New York City, USA Minskoff Theatre 1982 Karen Dianne Baldwin Miss Canada Canada Lima, Peru Coliseo Amauta 1983 Lorraine Downes Miss New Zealand New Zealand St. Louis, USA Kiel Auditorium 1984 Yvonne Ryding Fröken Sverige Sweden Miami, USA James L. Knight Center of Miami 1985 Deborah Carthy-Deu Miss Puerto Rico Puerto Rico Miami, USA James L. Knight Center of Miami 1986 Bárbara Palacios Teyde Miss Venezuela Venezuela Panama City, Panama Centro de Convenciones Atlapa 1987 Cecilia Carolina Bolocco Fonck Miss Chile Universo Chile Singapore City, Singapore World Trade Centre, Singapore 1988 Porntip Nakhirunkanok Miss Thailand Thailand Taipei, Taiwan Linkou Stadium 1989 Angela Visser Miss Nederland Netherlands Cancún, Mexico Fiesta Americana Condessa Resort 1990 Mona Grudt Frøken Norge Norway Los Angeles, USA Shubert Theatre 1991 Lupita Jones Señorita México Mexico Las Vegas, USA Aladdin Theatre for the Performing Arts 1992 Michelle McLean Miss Namibia Namibia Bangkok, Thailand Queen Sirikit National Convention Center 1993 Dayanara Torres Miss Puerto Rico Puerto Rico Mexico City, Mexico Auditorio Nacional 1994 Sushmita Sen Miss India India Manila, Philippines Philippine International Convention Center 1995 Chelsi Smith Miss USA USA Windhoek, Namibia Windhoek Country Club 1996 Alicia Machado Miss Venezuela Venezuela Las Vegas, USA Aladdin Theatre for the Performing Arts 1997 Brook Mahealani Lee Miss USA USA Miami Beach, USA Miami Beach Convention Center 1998 Wendy Fitzwilliam Miss Trinidad & Tobago-Universe Trinidad and Tobago Honolulu, USA Stan Sheriff Center 1999 Mpule Kwelagobe Miss Universe Botswana Botswana Chaguaramas, Trinidad and Tobago Universe Center 2000 Lara Dutta Miss India India Nicosia, Cyprus Eleftheria Stadium 2001 Denise Quiñones Miss Puerto Rico Universe Puerto Rico Bayamon, Puerto Rico Coliseo Ruben Rodriguez 2002 Oxana Fedorova (Dethroned) Miss Russia Russia San Juan, Puerto Rico Coliseo Roberto Clemente, Justine Pasek Señorita Panama-Universo Panama 2003 Victoria Amelia Vega Polanco Miss República Dominicana Universo Dominican Republic Panama City, Panama Figali Convention Center 2004 Jennifer Hawkins Miss Universe Australia Australia Quito, Ecuador Centro de Exposiciones y Convenciones Mitad del Mundo 2005 Natalie Glebova Miss Universe Canada Canada Bangkok, Thailand Impact Arena 2006 Zuleyka Jerrís Rivera Mendoza Miss Puerto Rico Universe Puerto Rico Los Angeles, USA Shrine Auditorium 2007 Riyo Mori Miss Universe Japan Japan Mexico City, Mexico Auditorio Nacional, Mexico City, Mexico 2008 Dayana Mendoza Miss Venezuela Venezuela 2009 Stefanía Fernández Krupij Miss Venezuela Venezuela




